Uang di RI semakin menipis, bank-bank swasta lebih memilih menitipkan uangnya di sini

Uncategorized298 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Fungsi intermediasi perbankan membuat Presiden Joko Widodo atau Jokowi khawatir. Ia berpendapat bahwa bank mencari terlalu banyak keamanan dengan menempatkan sebagian besar dananya pada surat berharga.

“Saya imbau semua perbankan harus hati-hati dan hati-hati, tapi tolong dorong lebih banyak penyaluran kredit, khususnya UMKM,” kata Jokowi dalam Rapat Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Kantor Pusat BI di Jakarta, dikutip Kamis (12 Juli 2023). . ).

Jokowi mengatakan, menurut laporan kalangan pengusaha, peredaran uang kini semakin kering. Ada indikasi, kata Jokowi, hal itu disebabkan pembelian instrumen yang diterbitkan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

“Mungkin uang yang terlalu banyak akan membeli SBN atau terlalu banyak akan membeli SRBI atau SVBI. Jadi, uang yang masuk ke sektor riil akan lebih sedikit,” jelasnya.

Penyaluran pinjaman perbankan akan disesuaikan dengan kondisi perekonomian, menurut Senior Vice President Lembaga Perbankan Pembangunan Indonesia (LPPI) Trioxa Siahan. Saat ini, roda perekonomian berputar lambat akibat tingginya suku bunga dan tekanan inflasi.

Petunjuk pengalokasian kredit aktif tentunya harus memperhatikan prinsip kehati-hatian dan memastikan kredit yang sehat, terutama dalam situasi perekonomian yang belum sepenuhnya membaik, ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (12 Juli 2023).

Ia mengapresiasi pernyataan Jokowi yang meminta perbankan lebih agresif dalam menyalurkan pinjaman agar fungsi intermediasi bisa berjalan maksimal. Hal ini bisa merangsang perekonomian.

Kredit bank swasta lesu

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), surat berharga yang dimiliki perbankan bernilai Rp 1.889,7 triliun per September 2023, naik 3,59% year-on-year. Pada periode yang sama, pinjaman yang diberikan perbankan kepada pihak ketiga tumbuh sebesar 8,96% year-on-year menjadi Rp6.837,3 triliun.

Baca Juga  Era Suku Bunga Tinggi Masih Panjang, Ini Jawaban Pimpinan BNI

Namun jika dicermati, pertumbuhan surat berharga bank swasta nasional hampir setara dengan pertumbuhan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga. Pada September 2023, sekuritas naik 7,15% dari tahun ke tahun dan pinjaman naik 7,84% dari tahun ke tahun.

Demikian pula cabang bank asing lebih memilih menginvestasikan dananya pada surat berharga. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan surat berharga sebesar 35,79% y/y, sedangkan pinjaman turun 4,71% y/y.

Hal ini berbeda dengan bank-bank milik negara yang pertumbuhan pinjamannya sebesar 10,98% y/y, sementara surat berharga turun 2,38% y/y.

Kepala Kantor Pengawasan Perbankan Diane Ediana Ray mengatakan setiap bank memiliki risk appetite masing-masing. “Kami melihat alokasi portofolio dan pengelolaan likuiditas juga berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyatakan, bank tidak lepas dari fungsi utamanya yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkannya.

Namun OJK juga mendorong perbankan untuk memberikan pinjaman khususnya kepada UMKM. “Saya pikir bank mempunyai tanggung jawab itu,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Bukan likuiditas, OJK mengingatkan bank kecil sekalipun

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *