Soal Bursa Soal 5 Tersangka dan Kerugian 2019, Ini Jawaban Tima (TINS)

Uncategorized22 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Akhir April lalu, Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima tersangka baru atas dugaan korupsi pengelolaan sistem tata niaga komoditas timah di kawasan IUP PT Timah Tbk. (INS) 2015-2022 Perusahaan pelat merah itu pun menentang keputusan tersebut karena Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan.

Dalam keterbukaannya, Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar mengatakan tidak ada hubungan antara perusahaan dan individu. Dia menyatakan, hubungan TINS ​​dengan PT Timah hanya sebatas antar perusahaan yang mempunyai perjanjian kerja sama.

Sedangkan ketiga tersangka yang berasal dari Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung memiliki hubungan kelembagaan hanya karena TINS ​​​​melakukan kegiatan operasionalnya.

“Perusahaan menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum,” kata Abdullah dalam keterbukaan informasi, Jumat (17 Mei 2024).

Dalam kesempatan yang sama, TINS ​​​​juga menjelaskan penyebab kerugian pada tahun 2019 yang menurut kondisi seharusnya mengalami peningkatan produksi pertambangan.

Abdullah menjelaskan, pada tahun 2019, perseroan mencatat produksi logam timah sebanyak 76.389 metrik ton dengan volume penjualan sebesar 67.704 metrik ton. Seiring dengan peningkatan volume produksi, terjadi pula peningkatan biaya produksi yang tercermin pada beban pokok pendapatan.

Pada saat yang sama, harga timah global mengalami tekanan sepanjang tahun 2019, terutama pada paruh kedua tahun ini. Pada tahun 2019, rata-rata harga logam timah dunia yang tercatat di London Metal Exchange (LME) disesuaikan menjadi US$18.569 per ton. Secara triwulanan, harga rata-rata timah dunia turun 3% menjadi $16,697/t pada triwulan keempat tahun 2019, dibandingkan dengan $17,146/t pada triwulan ketiga tahun 2019.

Selain itu, beban bunga TINS ​​juga meningkat selama tahun 2019 yaitu sebesar Rp782 miliar, naik 122% year-on-year (YoY).

Baca Juga  BEI akan menunjuk sekuritas sebagai market maker, ini perannya di bursa AS

“Meningkatnya biaya produksi dan beban bunga di tengah rendahnya harga logam timah, terutama pada paruh kedua tahun 2019, membuat perseroan melaporkan rugi bersih tahun 2019 sebesar Rp 611 miliar,” jelas Abdullah.

Bursa juga menanyakan upaya khusus TINS ​​untuk mencegah terulangnya kasus korupsi di masa depan. Abdullah menjawab, pihaknya tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dalam proses bisnis secara umum dan prinsip good mining practice (GMP) khususnya dalam proses penambangan.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Dibayangi kasus korupsi Rp 271 T, PT Timah (TINS) bakal untung besar

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *