Saham AMMN meroket, aset Agoes Projo bertambah Rp 42 triliun

Uncategorized458 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham emiten pertambangan emas-tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), telah lepas landas konser di bursa pada 7 Juli 2023. Hal ini pula yang membuat Kombes Agoes Proyosasmito semakin bertambah kaya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per 6 Oktober 2023, saham AMMN diperdagangkan pada harga Rp 6.275 per saham, meningkat 270 persen dari harga saham sejak dicatatkan (daftar).

AMMN saat ini menempati peringkat kelima emiten dengan kapitalisasi pasar (market kapitalisasi) terbesar di bursa, mencapai Rp 451,27 triliun. Di atas AMMN adalah bank milik negara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 562,33 triliun.

Agoes Proyosasmito, mantan bankir yang dekat dengan banyak pengusaha, termasuk Anthony Salim, pemilik AMMN, tercatat sebagai pengendali perusahaan melalui perusahaan investasi PT AP Investment.

Berdasarkan prospektus penawaran umum perdana (IPO), PT AP Investment dimiliki oleh Agoes Projosasmito yang terdiri dari 750 saham biasa. Selain Agoes, nama-nama tersebut adalah Aditya Sasmito yang memiliki 250 saham biasa dan Adrian Wicaksono yang memiliki 250 saham biasa AP Investment.

Per 30 September 2023, AP Investment memiliki 15,58% saham AMMN. Agoes Projo dengan 60% sahamnya di AP Investment, secara tidak langsung memiliki 9,3% saham AMMN.

Dibandingkan valuasi saham saat AMMN debut di bursa, kekayaan Agoes Projo meningkat Rp30,79 triliun menjadi Rp42,18 triliun.

Tentu saja, ini hanyalah perhitungan sederhana yang dirancang untuk menggambarkan kemungkinan-kemungkinan potensial bagi pembaca. keuntungan atas efek Agoes Projo dalam saham AMMN.

Sekilas tentang Agoes Projo

Nama Agoes Projosasmito sendiri sudah dikenal di seluruh dunia industri pertambangan. Beliau baru saja ditunjuk sebagai Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dimiliki oleh Grup Bakrie berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 30 Juni 2023. Ia juga sebelumnya menjabat Presiden dan Direktur perusahaan pertambangan emas Bumi Resources Minerals (BRMS), bagian dari Grup Bakrie.

Agoes diketahui dekat dengan Salim dan merupakan sosok sentral di balik masuknya Salim ke grup BUMI. Kabar tersebut tidak serta merta datang, melainkan terkait penunjukan Agoes sebagai Direktur Utama BRMS di tengah akuisisi saham Grup Salim. Ia hadir menggantikan Suseno Cramadibrata yang saat itu menjabat Wakil Direktur Utama perusahaan.

Baca Juga  Sengketa Pilpres Habiskan Hampir 16.000 Dolar Rupiah, BI Segera Turun Tangan!




Foto: Sesampainya di lokasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) pada Selasa sore, 20 Juni 2023, Presiden Joko Widodo dan rombongan meninjau smelter dari bukit observasi. (Dok. Laili Racheva – Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sebelum menjadi eksekutif senior di sebuah emiten pertambangan, Agoes memulai karirnya di industri keuangan. Salah satu tonggak penting dalam karir lulusan Australian National University ini sebagai bankir investasi adalah pengangkatannya sebagai Presiden dan Direktur Danareksa Sekuritas.

Selain itu, Agoes juga pernah menduduki beberapa posisi penting di industri keuangan, antara lain Komisaris Utama PT NC Securities, Wakil Direktur Utama PT DBS Securities Indonesia, Direktur PT Merincorp Securities Indonesia, Kepala Departemen Pasar Modal PT Merchant Investment Corp, dan Kepala Departemen Pasar Modal PT Merchant Investment Corp. Departemen Pasar Modal PT Danareksa (Persero).

Pengaruhnya di industri keuangan terlihat dalam transaksi-transaksi penting di Indonesia, mulai dari pendirian Star Energy dengan akuisisi operasi lepas pantai Conoco Phillips di Natuna pada tahun 2002 hingga akuisisi situs panas bumi Wayang Windu dari Credit Suisse dan Deutsche Bank pada tahun 2002. 2004.

Setelah berkarir selama tiga dekade di industri keuangan, Agoes mulai fokus pada industri padat modal lainnya, yaitu pertambangan.

Masuknya Agoes ke dunia pertambangan tak lepas dari kedekatannya dengan pimpinan Grup Salim. Agoes dikabarkan bersama Anthony Salim mengelola beberapa proyek bisnis dengan merek Ithaca Resources yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.

Meski sudah lama menggeluti bisnis pertambangan, namun langkah terbesarnya yang benar-benar terlihat publik adalah akuisisi tambang tembaga-emas Nusa Tenggara Barat dari perusahaan Amerika.

Agoes merupakan salah satu tokoh penting dalam akuisisi Newmont Nusa Tenggara (NNT) dari Newmont Mining Corp. Dan Sumitomo Corporation dari Medco Energy (MEDC) pada tahun 2016. Total nilai pengambilalihan perusahaan yang berganti nama menjadi Amman Minerals ini mencapai US$2,6 miliar atau setara Rp 34,32 triliun (dengan kurs Rp 13.200 per dolar AS saat itu).

Sebelum mencapai kesepakatan akhir, Agoes dikabarkan menjadi pihak pertama yang mencari dana dan investor strategis untuk mengakuisisi Newmont melalui konsorsium lokal. Konsorsium tersebut dilaporkan mencakup beberapa pengusaha terkemuka, termasuk keluarga Kiki Barki, yang mengendalikan perusahaan pertambangan batu bara Harum Energy (HRUM), dan pendiri Medco Arifin Panigoro. Meski akhirnya tercapai kesepakatan dengan nama belakang.

Akhirnya terungkap Medco Energi Group dan AP Investment milik Agoes bekerja sama mengakuisisi saham Amman Mineral dengan dukungan tiga bank milik negara, yakni Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). ). .

Dalam akuisisi tersebut, emiten tambang emas milik Grup Bakrie, BRMS, akhirnya melepas kepemilikan sahamnya di NNT melalui PT Multi Daerah Bersaing (MBD) kepada Medco senilai US$400 juta.

Seolah sejarah terulang kembali, grup Bakrie kini dikabarkan mengalihkan kepemilikannya kepada partai lain yang dipimpin Agoes Proyosasmito. Jika sebelumnya ia bekerja di Medco, kali ini ia merapat ke perusahaan Grup Bakrie bersama Anthony Salim.

Grup Salim diduga masuk ke BRMS melalui Emirates Tarian Global Ventures yang menguasai 25,10% saham BRMS per 6 Juni, menurut data KSEI.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Emirates Tarian aktif membeli saham BRMS sejak Desember 2021 dan kemudian secara bertahap meningkatkan kepemilikan sahamnya di emiten pertambangan emas tersebut. BUMI yang masih menjadi pengendali BRMS saat ini hanya menguasai 4,88%.

Panitera PT Ficomindo Buana mencatat, Emirates Tarian Global Ventures merupakan perusahaan yang beralamat di Cricket Square, Hutchins Drive PO BOX 2681 Grand Cayman Ky1-1.

RISET CNBC INDONESIA

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Amman Mineral mematok harga IPO Rp 1.695, itu target dana

(hsy/hsy)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *