Pelaku pasar menantikan dua data penting dari AS ini: Bagaimana Nasib Rupee?

Uncategorized87 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupee masih tertekan terhadap dolar AS. Pada akhir bulan Februari, sejumlah data ekonomi dirilis, seperti inflasi PCE dan klaim pengangguran AS, yang dapat berdampak pada pergerakan mata uang Garuda dan membuatnya lebih bergejolak.

Rupiah berakhir di Rp 15.680 per dolar AS melemah 0,29% pada hari kemarin, Rabu (28 Feb 2024), menurut data Refinitiv. Pelemahan rupee ini memperpanjang depresiasi sehari sebelumnya yang melemah 0,06% dan kembali mencatatkan depresiasi selama empat hari berturut-turut.

Rupee telah melemah terhadap dolar AS selama hampir seminggu di tengah berbagai sentimen defisit yang muncul belakangan ini, serta proyeksi potensi defisit yang melebar di masa depan.

Sebagai informasi, pada triwulan IV tahun 2023, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat melebar hingga US$1,3 miliar, sedangkan secara keseluruhan pada tahun 2023 defisit mencapai US$1,6 miliar atau 0,1% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di sisi lain, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2023 sebesar Rp347,6 triliun atau 1,65% PDB.
Defisit ganda ini menyebabkan pandangan investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia kurang baik. Dampaknya, depresiasi nilai tukar rupee tidak bisa dihindari.

Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal mengatakan twin defisit seringkali berdampak negatif pada pasar keuangan Indonesia, meski faktor suku bunga dan prospek pertumbuhan global juga berdampak pada stabilitas pasar.

Lanjut ke hari ini, Kamis (29 Februari 2024), akan ada sejumlah rilis data di akhir Februari, terutama dari AS, seperti data inflasi PCE dan klaim pengangguran mingguan.

Berdasarkan konsensus pasar di Trading Economics, inflasi PCE Negeri Paman Sam pada Januari 2024 akan turun menjadi 2,4% secara tahunan (YoY/YoY) dan naik menjadi 0,3% MoM (MoM). .

Baca Juga  IHSG naik lebih dari 1% hingga mencapai 6900 lagi

Sementara itu, inflasi PCE inti, tidak termasuk harga pangan dan energi yang berfluktuasi, diperkirakan akan meningkat menjadi 2,9% (YoY) dan 0,4% (MTM).

Data tersebut akan dicermati oleh para pelaku pasar, khususnya bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed), mengingat inflasi PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang akan diperhitungkan dalam kebijakan The Fed ke depan.

Jika pembacaan PCE serupa dengan pembacaan inflasi harga konsumen dan harga produsen baru-baru ini, hal ini dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini lebih lama dari perkiraan pasar.

Selain data inflasi PCE, Negeri Paman Sam juga akan merilis data klaim pengangguran mingguan untuk pekan yang berakhir 24 Februari 2024.

Klaim pengangguran mingguan kali ini akan naik lagi menjadi 210.000, naik dari minggu sebelumnya yang berakhir 17 Februari dengan 201.000 klaim, menurut perkiraan pasar oleh Trading Economics.

Jika klaim pengangguran kembali naik, maka data tenaga kerja bisa dikatakan mulai mendingin. Namun demikian, tidak ada kesimpulan langsung yang dapat diambil dari hal ini, mengingat terdapat data angkatan kerja lain yang dapat dijadikan tolok ukur, seperti jumlah non-farm payrolls dan tingkat pengangguran secara keseluruhan.

Pasar tenaga kerja juga menjadi salah satu faktor penentu kebijakan The Fed. Oleh karena itu, publikasi data apa pun yang mencerminkan keadaan pasar tenaga kerja AS patut untuk diperhatikan.

Teknis Rupee

Secara teknikal, pergerakan rupee mulai menunjukkan pembalikan – dari sideways hingga melemah. Rupiah saat ini sedang menguji resisten di Rp 15.680/USD yang berasal dari garis horizontal berdasarkan candle high intraday pada 7 Februari 2024.

Jika posisi tersebut tertembus, ada potensi pelemahan lanjutan hingga ke resistance selanjutnya di Rp 15.729 atau level psikologis terdekat di Rp 15.700.

Baca Juga  Listing pertama: Saham Janu Putra Sejahtera (AYAM) naik 35%

Sedangkan untuk mencari posisi support terdekat atau potensi kekuatan jika terjadi pembalikan arah, Anda bisa melihat posisi IDR 15.650/USD, nilai ini berasal dari garis rata-rata 50 jam atau moving average 50 (MA50).

Foto: Tradingview
Pergerakan rupee terhadap dolar AS

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Kadev Jatuh, Neraca Dagang China Menyusut, Rupee, Hati-hati!

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *