Kita tunggu saja pelaku pasar, rupee terus melemah

Uncategorized373 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah sikap wait and see pelaku pasar menunggu data Bank Indonesia (BI) dan penurunan harga komoditas.

Laporan dari RefinitifRupiah dibuka melemah pada Rp15.528 per dolar AS atau terdepresiasi 0,05%. Pelemahan ini terjadi selama enam hari berturut-turut, terhitung sejak 2 Januari 2024.

Sedangkan DXY pada pukul 8.49 WIB naik 0,01% menjadi 102,21. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Senin (1/8/2024) yang berada di 102,20.


Hari ini BI akan merilis data Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia (IKK) Desember 2023. IKK diperkirakan sebesar 124, naik dari tertinggi bulan November di 123,6.

Kenaikan IKK pada bulan Desember kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya daya beli masyarakat akibat musim Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Sebagai referensi, nilai IKK nasional masih di atas 100 sehingga kepercayaan konsumen masih optimis.

Pada November 2023, IKK RI turun menjadi 23,6 dari bulan sebelumnya yang tercatat 124,3. IKK Indonesia masih berada di zona bullish. Namun terjadi penurunan pada sejumlah faktor pembentuknya.

Kepercayaan konsumen dalam membeli barang konsumsi atau barang tahan lama mengalami penurunan, terutama pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 1–2 juta. Dari sisi kelompok umur, penurunan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama paling dalam terjadi pada kelompok umur di atas 60 tahun.

Hal ini memaksa pelaku pasar untuk wait and see terlebih dahulu.

Selain itu, meski suku bunga IKK diprakirakan akan meningkat, nilai tukar rupiah masih terus tertekan oleh penurunan harga komoditas utama Indonesia.

Harga energi kembali turun pada perdagangan kemarin: mulai dari minyak, gas, hingga batu bara. Penurunan harga disebabkan melemahnya permintaan global, tingginya pasokan dan kebijakan Arab Saudi yang menurunkan harga minyak.

Baca Juga  Bank Mandiri dan Salim Group berkolaborasi memerangi UMKM

Pada perdagangan Senin (1/8/2024), minyak mentah Brent turun 3,3% menjadi US$76,19 per barel dan minyak mentah WTI turun 4,3% menjadi US$70,63 per barel.

Harga batu bara juga turun 0,6% menjadi US$129,75 per ton, sedangkan harga gas alam Eropa turun 8,6%.

Hal ini berdampak negatif pada nilai tukar mata uang Garuda, karena dapat menyebabkan neraca perdagangan Indonesia berada di bawah US$3 miliar dan berdampak pada transaksi berjalan yang akan melanjutkan tren defisit.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Dolar AS Terus Menguat, RI: Waspadai Tsunami Ekonomi

(v/v)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *