IHSG Kembali ke Zona Merah: 5 Saham Berkapitalisasi Besar Ini Yang Patut Disalahkan

Uncategorized47 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Pada perdagangan sesi I Rabu (5 Agustus 2024), terjadi tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG). setelah penguatan di awal sesi saya hari ini.

Hingga pukul 10:00 WIB, indeks IHSG melemah 0,19% ke 7.109,83. IHSG masih berada di level psikologis 7100 menjelang sesi pertama hari ini.

Nilai perdagangan indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp3,4 triliun, termasuk 5,5 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 366.503 kali.

Secara sektoral, sektor kesehatan mempunyai bobot tertinggi pada indeks IHSG pada sesi I hari ini yakni mencapai 0,91%.

Beberapa saham juga mengalami tekanan (tertinggal) IHSG pada pertemuan I hari ini. Berikut daftarnya.

Perusahaan perbankan Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar terbesar yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan tekanan paling besar terhadap IHSG pada sesi hari ini dengan mencapai 5,2 poin indeks.

Volatilitas IHSG hari ini masih cukup tinggi. karena investor biasanya mengambil tindakan pengambilan keuntungan sebelum liburan panjang. Hari ini adalah perdagangan terakhir pada minggu ini sebelumnya liburan panjang Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Pelaku pasar biasanya mengambil keuntungan terlebih dahulu menjelang hari raya atau memperkirakan kondisi yang lebih buruk saat libur panjang.

Sebelumnya, Senin kemarin, pelaku pasar mendapat data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2024 yang tercatat sebesar 5,11% year on year (tahun demi tahun/yoi).

Hari ini Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan cadangan devisa (kadev) RI di dalam negeri periode April 2024.

Pelaku pasar memperkirakan nilai cadangan devisa Indonesia bisa terkuras jauh lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini terjadi karena rupee berada di bawah tekanan sebesar 2,6% selama bulan April hingga mencapai level terendah dalam empat tahun di Rs 16.260 per dolar AS.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Naik, Akankah Emas Pulih?

Melemahnya rupee juga memaksa BI melakukan intervensi besar-besaran ketika pasar mulai dibuka pasca Idul Fitri lalu.

Intervensi dilakukan di pasar spot, pasar forward domestik (DNDF), serta pasar surat berharga negara (SBN). Intervensi di pasar spot menghabiskan lebih banyak dana dibandingkan di pasar forward domestik.

Sebagai informasi, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2024 masih kuat yakni sebesar US$140,4 miliar, meski turun dibandingkan posisi akhir Februari 2024 sebesar US$144,0 miliar.

Penurunan posisi cadangan devisa antara lain dipengaruhi oleh pelunasan utang luar negeri pemerintah, antisipasi kebutuhan likuiditas valuta asing korporasi, dan perlunya stabilisasi nilai tukar rupee di tengah masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. .

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta melebihi standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI memperkirakan cadangan devisa mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

RISET CNBC INDONESIA

[email protected]

Penolakan tanggung jawab: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berdasarkan pandangan Riset CNBC Indonesia. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada di tangan pembaca dan kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul akibat keputusan ini.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

IHSG kembali lesu setelah mencetak rekor, saham inilah yang patut disalahkan

(bhd/bhd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *