Harap tenang! Likuiditas perbankan masih aman, siap ekspansi di 2024?

Uncategorized61 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun lalu sempat lesu, namun kini sudah mulai tumbuh ke arah positif, mendekati level normal dan masih cukup untuk mendanai penyaluran kredit sesuai target tahun ini.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Judah Agung mengatakan, “Kemarin DPC tumbuh cukup baik di angka 5,8%, sepertinya menuju pertumbuhan normal di angka 7-8%,” ujarnya dalam acara Economic Outlook 2024 CNBC Indonesia. . Optimism” pada Kamis (27 Februari 2024) di Ritz Calton, Pacific Place, Jakarta Selatan.

Hingga Januari 2024, DPK tumbuh secara tahunan sebesar 5,8% (YoY), berdasarkan statistik perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Situasi tersebut membaik dibandingkan akhir tahun lalu yang hanya naik 3,73%.

Lanjut Judah, pertumbuhan DPK saat ini masih cukup untuk memperluas penyaluran pinjaman perbankan dengan target sekitar 10%. Berdasarkan data di atas, pertumbuhan kredit perbankan nasional juga masih cukup tinggi hingga mencapai 11,80% pada Januari 2024.

Ekspansi kredit ini juga difasilitasi oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM) dengan catatan diberikan kepada sektor-sektor yang mendorong perekonomian nasional.

Judah melaporkan bahwa “kami sebenarnya telah melemahkan GWM sekitar 4% sementara GWM disalurkan untuk pinjaman yang mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Menurut Judah, pasca pelonggaran GWM, terjadi defisit sekitar Rp 125 triliun yang tidak dimanfaatkan perbankan untuk menyalurkan pinjaman.

Selain kredit, melemahnya GWM juga menyebabkan pergeseran pendanaan yang dapat digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) dengan imbal hasil yang kompetitif sebagai bantalan cost of fund.

Oleh karena itu, dalam kondisi saat ini, dengan pemilu yang hampir selesai, tekanan politik telah mereda. Yudas mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu lagi wait and see dari sudut pandang politik, namun kita tetap perlu mewaspadai permasalahan yang ada, terutama dari sudut pandang global.

Baca Juga  Di tahun politik yang minatnya meningkat, apakah RI masih diminati investor?

Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan perbankan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menata kembali sistem pendanaan.

Direktur Eksekutif Pengawasan, Pemeriksaan dan Statistik LPS Priyanto Budi Nugroho mengatakan, struktur kewajiban bank di Indonesia saat ini tidak banyak berubah sejak tahun 2008. Rata-rata jangka waktu simpanan di bank dalam negeri masih kurang dari 3 bulan, sedangkan di banyak negara rata-rata kurang dari 3 bulan dan rata-rata lebih dari 6 bulan.

“Kami kira begitu pengaturan waktu ini sedikit cocok untuk kita restrukturisasi di sisi pembiayaan. “Mungkin deposit tiga bulannya bisa diperpanjang, kami yakin kapal bisa cepat berlayar dan cepat melewati badai,” ujarnya.

Priyanto mengatakan, dalam kondisi saat ini, kecukupan likuiditas merupakan hal mendasar bagi perbankan untuk menghadapi tantangan perekonomian. Seperti diketahui, suku bunga diperkirakan tidak berubah. lebih tinggi lagi atau akan tetap pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Riset CNBC Indonesia juga meyakini bahwa kondisi saat ini, yang minim guncangan politik, membuat para pengusaha akan kembali mengembangkan usahanya. Tentunya hal ini akan mendorong perbankan untuk membantu meningkatkan permodalan pada setiap sektor usaha, yang tentunya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi positif di masa depan.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

DPK Bank Hanya Tumbuh 3,9% di Oktober 2023, Ini Alasannya

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *