Dolar AS Sudah Tembus Rp 15.400, Itu Salahnya!

Uncategorized477 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Amerika Serikat (USD) kini mencapai Rp 15.400. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar dan penjualan surat utang negara (SUN) oleh investor asing.

Pagi ini, pelemahan rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut seiring dengan penguatan dolar AS secara global dan aksi profit-taking khususnya di pasar SUN, kata Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunnarto kepada CNBC Indonesia, Kamis (21/21). 9/2023).

Rupiah melemah 0,16% terhadap dolar AS ke Rp15.400 per dolar AS dan mencapai level tertinggi Rp15.410 per dolar AS, tertinggi sejak 10 Maret 2023 menurut data Refinitiv.

Indeks Dolar AS (DXY) pada pukul 10.05 WIB tercatat sebesar 105,64, tertinggi sejak 30 November 2022. Hal ini memberikan tekanan pada nilai tukar rupee yang bisa memburuk.

Myrdal memperkirakan penguatan dolar AS sebenarnya terjadi secara global karena posisi Indeks Dolar AS terhadap mata uang utama dunia atau DXY kemarin ditutup dari 105,13 pada 19 September 2023 menjadi 105,33 pada 20 September 2023.

Sementara itu, nilai kepemilikan investor asing pada surat utang negara juga turun dari Rp848,68 triliun atau 15,42% dari total kepemilikan surat utang per 5 September 2023 menjadi Rp836,01 triliun atau 15,33% dari total kepemilikan per 19 September 2023.

Oleh karena itu, ia memperkirakan rupee akan terus bergerak pada kisaran Rp 15.235-15.409 per dolar AS pada bulan ini dan rupee masih rentan melemah terhadap dolar AS jika investor asing melakukan aksi jual di pasar keuangan dalam negeri.

“Hal ini merupakan respon terhadap sentimen global yang didorong oleh rilis data ekonomi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun ini,” ujarnya.

Baca Juga  Pabrik petrokimia Prajogo Pangestu ditutup sementara. Mengapa?

Untuk memastikan nilai tukar rupiah tetap terjaga stabilitasnya, ia berharap Bank Indonesia mempertahankan BI-7 reverse repo rate di angka 5,75%. Meski inflasi terkini di Indonesia relatif rendah yakni 3,27% year-on-year atau year-on-year pada Agustus 2023.

“Sebenarnya tingkat inflasi ini memberikan peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga tunai, namun kami yakin BI akan tetap fokus menjaga stabilitas makroekonomi dalam negeri akibat tekanan eksternal melalui beberapa faktor seperti nilai tukar rupee, investasi di bidang keuangan. pasar, serta inflasi impor di sektor energi dan pangan,” tegasnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Banyak Negara ASEAN yang Buang Dolar AS, Mungkinkah Rupee Lebih Kuat?

(pengusir hama/pengusir hama)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *