Bos OJK angkat bicara soal tingginya suku bunga bank digital

Uncategorized72 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Perbankan digital di Indonesia berkembang pesat, setidaknya saat ini sudah ada 15 bank digital. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa bank digital masih sering menggunakan strategi “pembakaran uang” untuk memberikan promosi atau keuntungan tertentu kepada nasabah, seperti suku bunga deposito yang tinggi.

Beberapa waktu lalu, pakar pemasaran sekaligus Wakil Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Agus V. Soehadi mengatakan cara ini “sudah tidak efektif lagi dan kurang baik bagi keberlangsungan usaha”. Belum lagi, tingginya suku bunga yang melebihi Suku Bunga Penjaminan (TBP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 4,25% tidak akan dijamin oleh lembaga ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sudah menyampaikan pandangannya terkait permasalahan ini. Direktur Eksekutif Otoritas Pengawasan Perbankan OJK Diane Ediana Ray mengatakan bank punya strategi dan selera risiko semua orang mengurus urusan mereka sendiri.

Ia menjelaskan berbagai layanan digital yang dapat ditawarkan oleh strategi perbankan kepada nasabah. Pertama, inovasi produk dan layanan.

“Melalui layanan digital, bank semakin mengembangkan produk dan layanan inovatif, kemudahan transaksi, layanan keuangan personal, dan solusi keuangan terintegrasi,” kata Dayan dalam keterangan tertulis yang dikutip, Senin (18 Maret 2024).

Kedua, teknologi dan pengalaman pelanggan. Yakni penggunaan teknologi yang semakin canggih untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, terutama aksesibilitas yang lebih besar melalui aplikasi seluler.

Ketiga, efisiensi operasional. Dayan menjelaskan, pemanfaatan teknologi dalam memperkenalkan layanan digital tentunya mengurangi biaya transaksi seperti biaya personel dan logistik, sehingga bank dapat menawarkan biaya transaksi atau keuntungan lainnya yang lebih rendah kepada nasabah.

Keempat, kerja sama dan kemitraan. Kemitraan dengan berbagai pihak, seperti perusahaan lain di sektor teknologi keuangan, e-commerce, dan telekomunikasi, semakin terbuka untuk menawarkan layanan yang lebih luas dan menarik lebih banyak pelanggan.

Baca Juga  Diperbarui, inilah susunan direksi dan anggota BNI terbaru.

Dian juga menyinggung tingginya suku bunga simpanan di bank digital yang tidak dijamin oleh LPS. Ia mengatakan OJK selalu mendorong penerapan perlindungan konsumen yang mencakup empat hal.

Pertama, transparansi. “OJK mendorong perbankan untuk memberikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai produknya, termasuk apakah produk tersebut memiliki jaminan LPS atau tidak,” kata Dayan.

Kedua, pendidikan konsumen. Untuk itu, OJK menekankan pentingnya edukasi keuangan kepada nasabah agar calon nasabah dapat mengambil keputusan yang tepat terkait produk keuangan yang digunakannya.

Ketiga, pengawasan dan pengaturan. Dian mengatakan pihak berwenang terus memperketat peraturan dan pengawasan bank untuk memastikan bank mematuhi standar keamanan, keadilan, dan transparansi dalam menawarkan produk dan layanan digital.

Keempat, perlindungan data. Secara khusus, OJK memastikan bank menerapkan praktik perlindungan data pribadi dan transaksi keuangan nasabah sesuai standar yang berlaku.

Kami ingatkan, layanan perbankan digital terbaru Krom dimiliki oleh PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) resmi diluncurkan pada Selasa (27 Februari 2024).

Bank besutan Kredivo Group yang menyasar generasi muda ini menawarkan keunggulan dari segi “daya saing” yakni suku bunga tinggi. Krom menawarkan suku bunga tabungan sebesar 6% per tahun dan suku bunga deposito hingga 8,75% per tahun yang saat ini merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Sementara itu, Neobank juga menawarkan suku bunga deposito yang tinggi – maksimal 8% per tahun. Begitu pula dengan Amar Bank, yakni maksimal 7% per tahun.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Aladin Bank (BANK) merugi Rp 146 miliar meski pendapatan tumbuh pesat

(ay/ay)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *