Bank berebut dana murah, BSI pun melakukannya

Uncategorized321 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Di era suku bunga tinggi, bank harus bersaing mendapatkan pembiayaan dengan menaikkan suku bunga pinjaman. Namun, perbankan harus berhati-hati dalam menaikkan suku bunga pinjaman karena pertumbuhan kredit perbankan lesu sepanjang tahun ini.

Seperti diketahui, kredit perbankan tumbuh 8,96% year-on-year (YoY) menjadi Rp 6,837 triliun pada September 2023. Pertumbuhan tersebut masih di bawah target Bank Indonesia (BI) dan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,06% YoY.

Namun PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI menilai dampak tingginya suku bunga dasar tidak terlalu signifikan.

“Biasanya kalau BI rate naik, dampaknya paling kentara ke deposito. Kebetulan eksposur kita ke dana murah di atas 60%. Itu dampaknya tidak terlalu signifikan,” kata Direktur Utama BSI Heri Gunardi dalam pertemuan di Jakarta. Jakarta. , Kamis (09/11/2023).

Sementara itu, BSI mencatat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp262,12 triliun atau meningkat 6,91% year-on-year pada Q3 2023. Komposisi produk murah atau rekening tabungan saat ini (CASA) memegang porsi terbesar yakni 60%, giro 3,16%, tabungan 5,24%, dan deposito 10,38%.

BSI juga masih memiliki strategi untuk menyerap dana masyarakat. Heri mengatakan penghimpunan dana murah dilakukan dengan memperkuat sistem pengelolaan kas. Ia mengatakan, pihaknya sudah memiliki sistem pengelolaan kas yang lebih baik dari sebelumnya.

“Saya berharap banyak perusahaan yang memanfaatkan ini untuk melakukan transaksi. Kalau jumlah transaksinya bertambah berarti dananya juga bertambah,” kata Heri.

Penghimpunan CASA juga dilakukan melalui retail banking yaitu melalui optimalisasi mobile banking dan QRIS.

“Kami mungkin sekarang punya 22.000 QRIS dan kami terus mendorongnya, sehingga semakin banyak pelanggan yang menggunakan infrastruktur BSI, maka CASA-nya akan semakin tinggi,” tutupnya.

Baca Juga  Saham Bank Raksasa Kembali Jatuh, Sudah Saatnya Bangkit?

Ia menambahkan, BSI memiliki produk unggulan bernama Tabungan Bisnis yang baru diluncurkan pada tahun lalu.

“Saat ini penghimpunan dana tabungan masyarakat pada kelompok tabungan usaha sudah melebihi Rp 5 triliun,” lanjut Heri.

Seperti diketahui, BI baru-baru ini menaikkan suku bunga acuan BI-7 reverse repo menjadi 6%. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupee di tengah menguatnya dolar AS.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan kenaikan BI-7 reverse repo rate dapat menimbulkan “perang harga” bagi perbankan di masa depan.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel berikutnya

Direksi dan komisaris BSI menerima saham BRIS senilai Rp 13,21 miliar

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *